Minggu, 05 Juli 2020

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.


Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung Fandi Utomo sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya


PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.


Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.

Inline image


Inline image

Inline image


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.

Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.

Inline image

Inline image
Inline image

"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.

Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

Sabtu, 04 Juli 2020

Heboh "Pejabat Kemenkopolhukam" Intimidasi Agar Kasus Yang Jadikan Sekda Bondowoso Sebagai Tersangka Dicabut dan Dihentikan Prosesnya

Heboh "Pejabat Kemenkopolhukam" Intimidasi Agar Kasus Yang Jadikan Sekda Bondowoso Sebagai Tersangka Dicabut dan Dihentikan Prosesnya

Jika Kasus Tidak Dihentikan Kapolres Akan Ditarik ke Polda dan Berimbas Pada Bupati Karena Presiden Jokowi Marah Besar Jika Kasus Ini Berlanjut

alt

Kedatangan oknum yang infonya merupakan pejabat penting dari Jakarta mengejutkan para pejabat di kabupaten Bondowoso.

Berdasar informasi yang dihimpun, Kepala Dinas Perpustakaan, Alun Taufana Sulistiyadi didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai staf Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia (Kemenkopolhukam RI), Bidang Perselisihan, pada Kamis, (2/7/2020). Orang tersebut bernama Maryadi

Kedatangan Maryadi tersebut didampingi oknum Pejabat teras Pemkab Bondowoso yang telah resmi ditetapkan tersangka oleh Polres Bondowoso dalam kasus ancaman pembunuhan.

Tujuan mereka mendatangi Kepala Dinas Perpustakaan adalah bahwa Maryadi meminta agar laporan kasus pengancaman yang sudah bergulir di Polres Bondowoso itu dicabut.

Sebagaimana diketahui, Polres Bondowoso telah menetapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Syaifullah, sebagai tersangka atas kasus pengancaman dengan pembunuhan terhadap Alun Taufana yang saat itu menjabat sebagai kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bondowoso.

Bahkan, sebagaimana dilansir Teropong Timur, Maryadi mengaku asisten dari Brigjen Erin Sahara.

Dan sebelum Maryadi berangkat ke Bondowoso, dia juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Intel Polda Jatim bernama Toni, yang tujuannya agar Alun Taufana Sulistyadi mencabut laporannya.

Saat sumber berita mengkonfirmasi via telepon seluler milik Maryadi kepada seseorang bernama Toni, yang bersangkutan memberikan klarifikasi.

"Saya (Toni) bukan Intel Polda Jatim, tetapi Intel Brimob Jatim. Dan saya sudah mengingatkan Maryadi, agar hati-hati dan tidak macam-macam di Bondowoso. Saya tidak ada maksud untuk intervensi hukum, semua terserah pelapor. Kok sekarang jadi rame seperti ini, lalu saya di suruh datang ke Bondowoso juga untuk apa", kata Toni yang merasa bersalah namanya dibawa-bawa oleh Maryadi.

Tidak hanya itu, Maryadi juga mengatakan, apabila kasus ini diteruskan maka Kapolres akan ditarik oleh Polda Jatim, dan jika kasus ancaman pembunuhan ini tetap berlanjut, akibatnya kasus ini juga akan berimbas kepada Bupati, bahkan kata Maryadi, Presiden Jokowi akan marah kalau sampai persoalan ini tidak selesai.

Beruntung saja Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., langsung bertindak ketika mendengar informasi tersebut. Kemudian, Maryadi langsung dibawa ke Kodim untuk dimintai keterangan.

Merasa terpojok, Maryadi, meminta tolong kepada sumber berita untuk dibantu klarifikasi bahwa kedatangan atas nama pribadi dan meminta pertanggungjawaban oknum pejabat yang menjemput dan menyuruhnya datang ke Bondowoso untuk meminta Alun Taufana Sulistiyadi mencabut laporannya.

Komandan Kodim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., membenarkan, jika pihaknya sedang kedatangan tamu yang katanya mengaku pejabat dari Kementerian Polhukam.

Namun, Kata Dandim, setelah ditanya Maryadi tidak mengakui bahwa dirinya berasal dari Kemenko Polhukam RI, dia datang ke Bondowoso secara pribadi.

"Karena saya bertanggungjawab diwilayah, maka saya harus tahu itu, tapi sejauh ini belum ada yang dirugikan,"kata Dandim.

Ketua Umum LSM Teropong, H. Nawiryanto Winarno, menyayangkan adanya upaya intervensi hukum oleh oknum yang mengaku dari Kemenkopolhukam, juga membawa-bawa Presiden RI yang akan marah jika kasus ini berlanjut, karena dianggap Bupati tidak dapat menyelesaikan masalah pejabatnya.

"Saya sangat menyayangkan kejadian ini, semua pasti sudah diskenario oleh seseorang, sampai Maryadi mau mengaku sebagai orang dari Kemenkopolhukam", katanya.

"Memang dari kejadian ini belum ada orang yang dirugikan, tetapi langkah seorang tersangka, mendatangkan orang dan mengaku-ngaku dari lembaga penting di pemerintah pusat untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti pelapor, dapat dikatagorikan tindak pidana, walaupun belum terjadi apa-apa", kata H. Nawiryanto.

Sementara Sekda Bondowoso, Syaifullah ketika dihubungi melalui HP/WA: 082330303191 belum ada respon


Selasa, 30 Juni 2020

GMNI Kritik Aksi Drama Risma

GMNI Kritik Aksi Drama Risma

Ageng Dendy Setiawan, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengkritik aksi drama yang dibuat walikota Surabaya Tri Rismaharini yang melakukan sujud pada dokter.

Dalam status akun facebook-nya, Dendy mengaku bingung dengan adegan drama yang dipertontonkan oleh Risma, yang kemudian disebar secara luas dan dimuat pada berbagai media massa dan media sosial.

"Aku ini heran dan kenapa kok gini amat, pencitraan atau memang wes (sudah - red) benar-benar gak mampu terus mengakui kesalahan atau permintan tolong?", kata Dendy, Senin (29/6/2020) malam.

Dendi minta agar Risma tidak terus membuat drama, karena kasihan pada nasib masyarakat dan tenaga medis.

"Sudahi drama ini, ayo gotong royong. Rakyat dan tenaga medis kasihan bu", tegasnya.

Beberapa saat lalu dengan dishooting kamera dan video, Walikota Surabaya, Risma, melakukan adegan sujud sebanyak dua kali saat bertemu para dokter dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan Persi Jatim (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia Jawa Timur), terkait penanganan corona di balaikota Surabaya, Senin (29/6/2020) pagi.

Saat itu sambil terliput kamera terlihat menangis Risma terkesan menyalahkan RSUD dr Soetomo dengan menyatakan bahwa pemkot Surabaya tidak bisa mengkoordinir RS yang dibawah kewenangan pemprov Jatim tersebut.

"Kami tidak terima, karena kami tidak bisa masuk (mengatur) kesana (RSUD dr Soetomo), kami tidak bisa masuk kesana padahal rumah sakit lain kami bisa", kata Risma saat itu sambil tampak tersedu.

Padahal beberapa waktu sebelumnya Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah, secara keras telah menegur Risma untuk lebih bersungguh-sungguh menangani wabah corona dan tidak banyak drama.

Karena Pangdam melihat sampai saat ini kurang adanya keseriusan kepala daerah sehingga jumlah kasus corona justru semakin meningkat. ( https://news.okezone.com/read/2020/06/10/519/2227703/tegur-keras-risma-pangdam-brawijaya-jangan-main-drama )

Sebagaimana diketahui, Ketua Umum dan Sekjen DPP GMNI mendukung Ketua Umum Pemuda Demokrat Fandi Utomo Sebagai Calon Walikot Surabaya ( http://www.surabayapagi.com/read/ketum-gmni-dukung-fandi-utomo-maju-pilwali-surabaya-2020 ).



GMNI Kritik Aksi Drama Risma

GMNI Kritik Aksi Drama Risma

Inline image

Ageng Dendy Setiawan, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengkritik aksi drama yang dibuat walikota Surabaya Tri Rismaharini yang melakukan sujud pada dokter.

Dalam status akun facebook-nya, Dendy mengaku bingung dengan adegan drama yang dipertontonkan oleh Risma, yang kemudian disebar secara luas dan dimuat pada berbagai media massa dan media sosial.

"Aku ini heran dan kenapa kok gini amat, pencitraan atau memang wes (sudah - red) benar-benar gak mampu terus mengakui kesalahan atau permintan tolong?", kata Dendy, Senin (29/6/2020) malam.

Dendi minta agar Risma tidak terus membuat drama, karena kasihan pada nasib masyarakat dan tenaga medis.

"Sudahi drama ini, ayo gotong royong. Rakyat dan tenaga medis kasihan bu", tegasnya.

Beberapa saat lalu dengan dishooting kamera dan video, Walikota Surabaya, Risma, melakukan adegan sujud sebanyak dua kali saat bertemu para dokter dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan Persi Jatim (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia Jawa Timur), terkait penanganan corona di balaikota Surabaya, Senin (29/6/2020) pagi.

Saat itu sambil terliput kamera terlihat menangis Risma terkesan menyalahkan RSUD dr Soetomo dengan menyatakan bahwa pemkot Surabaya tidak bisa mengkoordinir RS yang dibawah kewenangan pemprov Jatim tersebut.

"Kami tidak terima, karena kami tidak bisa masuk (mengatur) kesana (RSUD dr Soetomo), kami tidak bisa masuk kesana padahal rumah sakit lain kami bisa", kata Risma saat itu sambil tampak tersedu.

Padahal beberapa waktu sebelumnya Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah, secara keras telah menegur Risma untuk lebih bersungguh-sungguh menangani wabah corona dan tidak banyak drama.

Karena Pangdam melihat sampai saat ini kurang adanya keseriusan kepala daerah sehingga jumlah kasus corona justru semakin meningkat. ( https://news.okezone.com/read/2020/06/10/519/2227703/tegur-keras-risma-pangdam-brawijaya-jangan-main-drama )

Sebagaimana diketahui, Ketua Umum dan Sekjen DPP GMNI mendukung Ketua Umum Pemuda Demokrat Fandi Utomo Sebagai Calon Walikot Surabaya ( http://www.surabayapagi.com/read/ketum-gmni-dukung-fandi-utomo-maju-pilwali-surabaya-2020 ).